Sabtu, 18 April 2009

Lansing

KOMPAS, Kamis, 16 April 2009 05:06 WIB
Seorang petani di Lansing, Michigan, yang menunggui kelahiran dombanya sangat senang. Ibu domba itu melahirkan anak kembar dua, tetapi tak lama kemudian lahir lagi tiga anak domba. The Lansing State Journal, Selasa (14/4), melaporkan, salah satu domba milik Paul Oesterle telah melahirkan domba kembar lima. Ahli domba dari Michigan State University, Alan Culham, mengatakan, kelahiran seperti itu sangat jarang. Kasus itu terjadi hanya pada satu kelahiran dari 10.000. Oesterle mengira dombanya telah melahirkan kembar dua. Ternyata masih ada tiga lagi ketika memeriksa si domba keesokan harinya. Petani itu juga mengatakan, induk domba tidak dapat memproduksi susu yang mencukupi sehingga dia memiliki pekerjaan tambahan untuk memberi susu kepada bayi dombanya setiap enam jam sekali. Biar tambah pekerjaan, tetapi hatinya sangat senang dengan kelahiran domba kembar limanya. Mbeeekkkk....

Readmore »»

Selasa, 14 April 2009

Warsawa

KOMPAS, Selasa, 14 April 2009 04:13 WIB
Seorang politisi Polandia mengkritik kebun binatang kotanya karena belum lama ini telah menambah koleksi gajah ”gay”. Ninio,
si gajah yang berusia 10 tahun itu, memang lebih suka bergaul dengan sesama gajah lelaki ketimbang dengan betina. Michal Grzes, sang anggota dewan kota Warsawa yang konservatif, mengatakan, mahal-mahal mengeluarkan biaya 37 juta zloty (puluhan miliar rupiah) untuk rumah gajah terbesar di Eropa, masak malah memelihara gajah ”gay”? Reuters, Sabtu (11/4), mengungkapkan, kepala kebun binatang itu rupanya tak kurang akal berkilah, menangkis sorotan politisi oposisi sayap kanan dari Partai Hukum dan Keadilan itu. Menurut Poznan, sang kepala kebun binatang, Ninio yang masih 10 tahun memang masih terlalu muda untuk memilih betinanya. Biasanya, gajah lelaki baru matang secara seksual dan memilih betinanya pada usia 14 tahun. Sabar dululah....

Readmore »»

Coeymans & Taipei

COEYMAS - Nyaris saja lima insan ini tertimpa malapetaka saat seekor kijang ”meluncur” dengan cepat memecah kaca depan mobil yang mereka kendarai. Binatang malang itu akhirnya mendarat di tempat barang di belakang jok kendaraan jip mereka.
Demikian menurut Associated Press, Rabu (1/4). Sabtu malam lalu, Heather Sherman tengah berkendara bersama teman lelakinya, dua anak perempuannya, serta ibu Heather di kota Coeymans, Albany Selatan, New York. Tanpa mereka nyana, ternyata jip mereka menabrak si kijang. Binatang naas itu pun menerobos kaca depan jip, melewati penumpang di depan dan di baris belakang mobilnya. Mereka pun ”bersimbah-darah”. Mereka baru tahu kalau benda di kegelapan yang tiba-tiba menerjang kaca mobil itu adalah seekor kijang setelah mereka ke bagasi belakang jip untuk mengambil selimut dan tisu. Ternyata mereka malah menemukan mayat seekor kijang di bagasi. Meski tertabrak mendadak, kijang itu rupanya sigap juga. Nyatanya, ia mampu melewati penumpang di deret depan dan deret belakang setelah menerobos masuk, memecah kaca depan jip.

TAIPEI - Binatang sekalipun, jika dilatih baik-baik, bisa lebih tertib dari manusia yang senang main serobot. Seorang petani di Taiwan belum lama ini ”mengadopsi” 12 ekor babi hutan sebagai ternak piaraannya. Tak hanya sekadar memeliharanya, menurut Reuters, Rabu (1/4), Lee Tung-cheng, si petani, juga melatih babi-babi hutan itu untuk tertib mengikuti dirinya jika tengah berkendara dengan skuternya berkilo-kilometer. Bahkan, setiap kali lampu lalu lintas menyala merah, babi-babi hutan itu diajar patuh untuk berhenti. Umur babi-babi piaraan Lee itu semuanya kurang dari setahun. Inilah lucunya. Setiap kali Lee menstarter skuter dan bersiap meninggalkan peternakannya di sebuah desa kecil bernama Pingtung, eh, babi-babi itu tanpa diperintah sudah bersiap antre, tertib. Mereka hampir setiap hari bepergian bersama keluar peternakan. Mengagumkan juga binatang-binatang itu lantaran mereka sudah ”hafal” aturan lalu lintas yang harus mereka patuhi setiap kali pergi bersama Lee dan skuternya....
(Sumber: KOMPAS)

Readmore »»

SYDNEY

KOMPAS, Jumat, 20 Maret 2009 03:16 WIB
Jangan coba-coba membunuh buaya tanpa alasan yang kuat di Northern Territory, Australia. Buaya termasuk binatang yang dilindungi di sana. Namun,
mulai hari Kamis (19/3), pemerintahan Northern Territory yang berpusat di Darwin akan membayar pemburu untuk membunuh buaya-buaya yang jumlahnya sudah sekitar 80.000 ekor di kawasan pantai dan rawa-rawa di utara Australia itu. Keputusan pemerintah setempat ini diambil setelah buaya-buaya itu mulai meminta korban manusia. Briony Goodsell (11) hari Minggu lalu hilang saat mandi di Black Jungle Swamp, dekat Darwin. Diduga seekor buaya air asin memangsa bocah perempuan ini, setelah adiknya yang berusia tujuh tahun dan dua temannya melihat ekor buaya beberapa detik sebelum Goodsell lenyap. Bulan lalu, Jeremy Doble (5) juga hilang di Sungai Daintree di Negara Bagian Queensland. Doble diduga dimangsa buaya setelah mengejar anjingnya ke arah rawa-rawa. Pemerintah lokal akan membayar pemburu untuk menembak buaya tertentu. Izin untuk membunuh buaya ini sudah diajukan ke pemerintahan pusat yang diyakini bakal menyetujui. Soalnya, permintaan membunuh buaya tahun 2005 pernah ditolak pemerintahan di Canberra.

Readmore »»

Kamis, 09 April 2009

Cologne & Sydney

KOMPAS, Kamis, 09 April 2009
COLOGNE
Seekor Kucing bernama Felix ditemukan masih hidup dan dalam kondisi baik-baik di bawah reruntuhan puing gedung berlantai enam yang runtuh lima pekan silam di Cologne, Jerman.
Kucing malang, tetapi beruntung itu ditemukan oleh petugas pemadam kebakaran Jerman, Selasa (7/4). Cerita Felix ini tentu kontras sekali dengan cerita runtuhnya Cologne Archives pada 3 Maret 2009. Padahal, di gedung tua itu tersimpan berbagai naskah sangat berharga, seperti tulisan-tulisan asli pemikir Karl Marx, Hegel, Heinrich Boll, dan juga arsip rinci menit-menit sebuah pertemuan di dewan kota Cologne pada tahun 1376. Banyak lagi arsip berharga yang diperoleh dari berbagai bangunan perpustakaan yang rusak akibat tindak pengeboman yang dilakukan tentara sekutu pada Perang Dunia II. Soal cerita Felix? Itulah namanya keberuntungan dari seekor kucing berusia 12 tahun yang mampu bertahan hidup meski terkubur di bawah reruntuhan gedung.
SYDNEY
Ini juga cerita tentang sebuah keberuntungan. Seekor anjing piaraan jenis blue heeler bernama Sophie Tucker yang hilang tersapu ombak dari sebuah kapal layar di lepas pantai Australia ditemukan dalam keadaan hidup empat bulan kemudian di sebuah pulau terpencil. Anjing berusia empat tahun itu ditemukan oleh serombongan pasukan khusus yang tengah menjelajah di Pulau St Bees, di utara Negara Bagian Queensland. Artinya, anjing beruntung itu ditemukan sekitar 18 kilometer dari tempat ia dulu tersapu ombak pada bulan November silam. Semula, si Sophie dikira anjing liar yang hidup di pulau itu. Mereka lalu memerangkap anjing yang mereka temui itu menggunakan sangkar dengan umpan makanan anjing. Ketika ditangkap, Sophie yang sudah berbulan-bulan tak bertemu manusia itu seperti kebingungan. Namun, setelah beberapa saat, kata Steve Fisher si anggota pasukan yang menangkapnya, Sophie menjadi jinak lagi. Hari Selasa (7/4), Sophie yang lama hilang dikembalikan kepada pemiliknya, pasangan suami-istri Jan Griffith. Anjing itu bertahan hidup di pulau terpencil diduga karena makan kambing. Nyatanya, tak jauh dari Sophie ditemukan, banyak terdapat sisa bangkai anak kambing yang mati terkoyak. Pekan ini, si anjing hilang itu sudah kembali makan makanan seperti normalnya anjing piaraan, sejumlah terbatas daging olahan dan biskuit khusus untuk anjing....

Readmore »»

Kamis, 12 Maret 2009

Olga Lydia - Hewan Telantar

KOMPAS, Kamis, 12 Maret 2009 03:01 WIB
Pembawa acara dan model Olga Lydia (32) ternyata gampang merasa terenyuh kalau melihat binatang telantar. Akhir Desember 2008, seusai syuting di depan studio TVOne di kawasan Cawang, Jakarta Timur, dia menemukan seekor kucing lucu yang kakinya patah.


”Aku kasihan sekali, apalagi dia mengeong-ngeong kesakitan. Lalu, aku ambil dia, aku bawa ke dokter, terus aku pelihara di rumah. Sekarang kakinya sudah sembuh dan bisa lari ke sana kemari. Ah, senangnya,” ujar Olga tentang salah satu hewan peliharaannya itu.

Ketika ditemukan, lanjut Olga, kucing itu ternyata sedang hamil. ”Aku cari-cari di sekitar studio TVOne, kucing jantan mana yang harus bertanggung jawab. Ternyata sampai dia lahiran, enggak ada yang mau bertanggung jawab. Akhirnya, akulah yang bertanggung jawab ha-ha-ha.”

Olga memang penyayang binatang. Di rumahnya ada lima kucing, seekor burung, satu kura-kura, dan ikan.

”Kecuali ikan dan kura- kura, binatang-binatang yang ada di rumahku semuanya hasil nemu di jalan,” ujarnya.

”Saya tidak pernah memilih binatang, tapi hewan itulah yang memilih saya,” kata Olga menambahkan.

Ya, hewan mana sih yang tidak ingin dipelihara oleh Olga. Sudah sayang binatang, cantik pula....

Readmore »»

Rabu, 04 Maret 2009

Bali Butuh Waktu Setahun

Perlu Bergerak Bersama untuk Bebas Rabies
KOMPAS, Rabu, 4 Februari 2009 00:57 WIB

Denpasar - Pulau Bali bisa bebas kembali dari rabies dalam waktu maksimal satu tahun apabila penanganannya diperkuat dan dipercepat. Salah satunya adalah optimalisasi vaksinasi dari daerah terpapar (Badung dan Denpasar) ke daerah terancam.


Daerah yang terancam ini tersebar di tujuh kabupaten lain di Bali. ”Sekarang keputusan ada di tangan gubernur dan pemerintah pusat. Soal sumber daya manusia kami tidak kekurangan. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana siap menerjunkan 1.000 orang per hari untuk membantu vaksinasi,” kata Dr drh Gusti Ngurah Mahardika, peneliti dari FKH Universitas Udayana dalam Diskusi Ilmiah Percepatan Penanggulangan Rabies yang digagas FKH Unud di Denpasar, Selasa (3/2).

Mahardika mengakui, upaya vaksinasi terhadap hewan penular rabies (HPR), seperti anjing, kucing, dan kera, terutama anjing di Bali, sangat berat karena populasi anjing yang tinggi dengan kerapatan sangat padat. Berdasarkan data Yayasan Yudisthira Swarga, sebuah LSM yang bergerak dalam pengendalian populasi anjing, jumlah anjing di Bali sekitar 540.000 ekor atau 96 ekor per kilometer persegi. Menurut estimasi Dinas Peternakan Bali, populasinya 360.000-400.000 ekor. Namun, ia menegaskan, vaksinasi terhadap HPR dapat ”menutup gerak” penularan virus rabies apabila dilakukan secara optimal.

Hingga Januari lalu, vaksinasi HPR di Badung dan Denpasar belum optimal. Vaksinasi baru dilakukan pada 36.191 ekor HPR. Jumlah ini 34,2 persen di Badung dan 26,26 persen di Denpasar dari total populasi HPR di dua daerah itu. Di samping itu, eliminasi anjing liar di Bali baru dilakukan terhadap 818 ekor.

”Kami minta pemerintah bekerja sama dengan LSM, kalangan kampus, serta desa adat secara lebih optimal agar lebih fokus dan tepat sasaran. Sebab, sebenarnya virus rabies mudah dikendalikan karena penularannya terbanyak hanya melalui gigitan. Jika bergerak bersama, maksimal satu tahun kita bisa bebas rabies lagi,” kata Mahardika.

Praktisi hewan kecil yang juga mantan penyidik di Balai Penyidikan Penyakit Hewan Wilayah VI Denpasar, drh Soeharsono PhD, menyatakan, vaksinasi antirabies hanya di daerah tertular atau terpapar tidak menjamin berhasil memotong penularan rabies secara lebih luas.

Buktinya, rabies di Bali sudah ditemukan pada anjing di Legian (Kuta Utara) dan Denpasar. Kebijakan sama sebelumnya adalah hanya melakukan vaksin di Kecamatan Kuta Selatan sebagai daerah ditemukannya rabies di Bali pertama kali, September 2008.

”Tetap ada kemungkinan untuk hewan penular, seperti anjing liar bermigrasi, atau dibawa warga ke daerah lain yang belum tertular. Apalagi vaksin baru benar-benar menjadi imunitas sekitar dua pekan pascavaksin. Untuk itu, agar penularan rabies tidak meluas lagi, vaksinasi harus segera digelar di luar daerah tertular atau terpapar,” katanya.

Readmore »»